Seorang teman bilang: “Orang Jakarta hidup untuk bayar tempat tinggal.”
Saya tidak langsung percaya. Tapi setelah pulang dari Bekasi jam 10 malam dan mampir ke warung kopi dekat stasiun, saya mulai paham. Di situ duduk dua pria muda, sama-sama baru sampai rumah kontrakan. Obrolannya bukan soal cinta. Tapi KPR. Lalu pindah ke harga sewa. Lalu soal rumah lelang. Seolah mereka sedang bertarung melawan takdir—dengan spreadsheet.
**
Tinggal di Jakarta dan sekitarnya seperti memilih skenario hidup. Anda bisa main aman dan sewa. Bisa ambil risiko dan beli rumah. Atau main saham dalam bentuk bangunan: investasi properti.
Ketiganya sah. Tapi tak semuanya cocok untuk semua orang.
**
Investasi properti itu seperti beli tiket lotre mahal. Kalau beruntung, nilai rumah atau apartemen Anda naik dua kali lipat dalam 10 tahun. Kalau tidak, ya nunggu sampai anak Anda masuk kuliah.
Tapi ada rasa bangga yang tidak bisa dihitung dengan kalkulator. Ketika Anda menyewakan properti Anda, dan tiap bulan uangnya masuk ke rekening, seperti pohon yang berbuah sendiri.
Tentu, modal awalnya tidak ramah. Apartemen tipe studio pun butuh uang muka belasan juta. Belum lagi biaya notaris dan pajak-pajak yang sering datang diam-diam, seperti mantan minta balikan.
**
Lain lagi kalau beli rumah untuk tinggal. Ini soal akar. Soal membuat Jakarta bukan lagi kota singgah, tapi kota asal.
Rumah sendiri berarti anak-anak bisa tumbuh dengan tenang. Tidak was-was tiap kontrak habis. Tidak perlu angkat kulkas dan AC tiap dua tahun.
Tapi ini taruhan jangka panjang. Apalagi kalau ambil KPR 20 tahun. Kadang terasa seperti beli kebebasan, tapi dicicil tiap bulan.
**
Nah, menyewa itu seperti jadi backpacker di kampung sendiri. Praktis, fleksibel, dan tidak perlu mikir genteng bocor. Cocok untuk mereka yang hidupnya dinamis. Atau yang belum yakin Jakarta adalah rumahnya.
Tapi menyewa juga berarti Anda membayar untuk sesuatu yang tidak akan pernah Anda miliki. Uang sewa itu seperti uang yang habis di kafe—menghangatkan sesaat, lalu hilang di pagi hari.
**
Jadi, mana yang lebih baik?
Seperti tanya mana lebih nikmat: teh manis atau kopi hitam.
Tergantung lidah. Dan dompet.
Yang pasti, Jakarta dan sekitarnya bukan lagi kota yang bisa ditaklukkan dengan nekat semata. Di sini, tempat tinggal adalah keputusan hidup. Dan tak ada satu pun jalan yang tanpa resiko.
Yang penting bukan hanya memilih jalan, tapi siap dengan kisah yang akan dibawanya.